Pengertian Cerpen - Cerpen adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Dalam
cerpen dipisahkan sepenggal kehidupan tokoh, yang penuh pertikaian, peristiwa
yang mengharukan atau menyenangkan, dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan
(Kosasih dkk, 2004:431). Pengertian Cerpen
Nugroho Notosusanto (dalam Tarigan,
1993:176) mengatakan bahwa cerpen adalah cerita yang panjangnya di sekitar 5000
kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi yang terpusat dan lengkap pada
dirinya sendiri. Untuk menentukan panjang cerpen memang sulit untuk ukuran yang
umum, cerpen selesai dibaca dalam waktu 10 sampai 20 menit. Jika
cerpennya lebih panjang mungkin sampai 1½ atau 2 jam. Yang jelas tidak ada
cerpen yang panjang 100 halaman (Surana, 1987:58).
Asal-usul
Cerita
pendek bermula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah
terkenal seperti lliad dan odssey karya Homer.
Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama
yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya.
Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif
individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan
kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah
disampaikan.
Fabel,
yang umumnya berupa cerita rakyat dengan
pesan-pesan moral di dalamnya, konon dianggap oleh sejarahwan Yunani Herodotus sebagai hasil temuan seorang budak
Yunani yang bernamaAesop pada abad ke-6 M (meskipun ada kisah-kisah lain yang
berasal dari bangsa-bangsa lain yang dianggap berasal dari Aesop). Fabel-fabel
kuno ini kini dikenal sebagai Fabel shop. Akan tetapi ada pula yang memberikan definisi lain terkait
istilah Fabel. Fabel, dalam khazanah Sastra Indonesia seringkali, diartikan
sebagai cerita tentang binatang sebagai pemeran(tokoh) utama. Cerita fabel yang
populer misalnya Kisah Si Kancil, dan sebagainya.
Selanjutnya,
jenis cerita berkembang meliputi sage, mite, dan legenda. Sage merupakan cerita
kepahlawanan. Misalnya Joko Dolog. Mite atau mitos lebih mengarah pada cerita
yang terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat tentang sesuatu. Contohnya
Nyi Roro Kidul. Sedangkan legenda mengandung pengertian sebagai sebuah cerita
mengenai asal usul terjadinya suatu tempat. Contoh Banyuwangi.
Bentuk
kuno lainnya dari cerita pendek, yakni anekdot, populer pada masa Kekaisaran romawi. Anekdot berfungsi seperti perumpamaan, sebuah cerita realistis yang
singkat, yang mencakup satu pesan atau tujuan. Banyak dari anekdot Romawi yang
bertahan belakangan dikumpulkan dalam Gesta Romanorum pada abad ke 13 atau 14 Anekdot tetap populer di Eropa hingga abad ke-18, ketika surat-surat anekdot berisi
fiksi karya Sir Roger de Coverley diterbitkan.
Di
Eropa, tradisi bercerita lisan mulai berkembang menjadi cerita-cerita tertulis
pada awal abad ke-14, terutama sekali dengan terbitnya karya Geoffrey Chaucer Cabterbury Tales dan karya Giovanni Boccacio Decameron .
Kedua buku ini disusun dari cerita-cerita pendek yang terpisah (yang merentang
dari anekdot lucu ke fiksi sastra yang dikarang dengan baik), yang ditempatkan
di dalam cerita naratif yang lebih besar (sebuah cerita kerangka), meskipun perangkat cerita kerangka tidak diadopsi oleh
semua penulis. Pada akhir abad ke-16 , sebagian
dari cerita-cerita pendek yang paling populer di Eropa adalah "novella"
kelam yang tragis karya Matteo Bandello (khususnya dalam terjemahan Perancisnya). Pada masa
Renaisan, istilah novella digunakan untuk merujuk pada cerita-cerita pendek.
Pada
pertengahan abad ke-17 di Perancis terjadi perkembangan novel
pendek yang diperhalus, "nouvelle", oleh pengarang-pengarang seperti Madame de Lafayette. Pada 1690-an, dongeng-dongeng tradisional mulai diterbitkan
(salah satu dari kumpulan yang paling terkenal adalah karya (Charles Perrault). Munculnya terjemahan modern
pertama seribu satu malam
karya Antoine Galland (dari 1704; terjemahan lainnya muncul pada 1710–12)
menimbulkan pengaruh yang hebat terhadap cerita-cerita pendek Eropa karya Voltaire, Diderot dan lain-lainnya pada abad ke 18.